CARA MENGATASI TAKUT MATEMATIKA
Minggu, 06 Oktober 2013 • 07.48 • 0 comments

CARA MENGATASI TAKUT MATEMATIKA 

Apakah sebenarnya takut matematika itu ?

Ketakutan pada matematika sebenarnya seringkali terjadi pada orang-orang, terutama siswa sekolah. Takut matematika mirip seperti demam panggung. Mengapa seseorang bisa mengalami demam panggung? Takut salah di depan orang banyak? Takut melupakan kata-kata yang seharusnya diucapkan ? Takut akan dicap jelek?. Takut matematika kurang lebih seperti itu. Ada ketakutan bahwa ia tidak akan mampu mengerjakan soal atau ketakutan bahwa soal ujian akan terlalu sulit dan bahkan takut membayangkan bagaimana jika sampai tidak lulus. Ketakutan ini biasanya muncul akibat kurangnya percaya diri. Tentu saja semakin kita khawatir dan takut, semakin sulit mengerjakan soal matematika. Apalagi saat ujian, biasanya ada batas waktu yang semakin menambah tekanan dan meningkatkan kekhawatiran bagi banyak siswa.

Kenapa bisa ada ketakutan pada matematika ?

Takut matematika biasanya berawal dari pengalaman kurang menyenangkan dalam pelajaran matematika. Mungkin pada awal seseorang mengenal matematika, ia tidak diajarkan dengan cara yang tepat sehingga kurang mengerti inti dari pelajaran tersebut. Sayangnya, seringkali di sekolah, pelajaran matematika diajarkan tanpa memperhatikan pengertian, hanya diajarkan untuk mengingat rumus dan menghafal cara. Jika siswa hanya menghafal cara dan rumus tanpa pengertian, maka ketika menghadapi variasi soal atau lupa rumus, ia akan menjadi panik dan tidak bisa mengerjakan. Jika hal ini berlangsung terus menerus maka siswa tersebut akan tidak suka pada matematika, atau yang lebih parah ia akan takut dan benci pada matematika. Pengertian pada matematika adalah hal yang penting, jika siswa menyadari bahwa mereka ternyata bisa matematika, maka ketakutan terhadap matematika itu akan hilang. Maka dari itu, peran guru dan orang tua sangat penting untuk menyampaikan pengertian ini pada saat siswa pertama kali mulai mengenal matematika.

Mitos-mitos yang TIDAK BENAR mengenai matematika

Pernyataan-pernyataan berikut ini seringkali kita dengar, dan ini adalah SALAH
Matematika adalah bakat, sekali tidak bisa maka selamanya tidak akan bisa.
Matematika hanya untuk laki-laki, perempuan tidak bisa matematika.
Matematika hanya untuk anak pintar, terlalu sulit untuk orang biasa.
Jika kemampuan otak kiri kita kurang, maka akan sulit belajar matematika.
Hanya ada satu cara yang benar dalam mengerjakan suatu soal matematika.

Cara Mengatasi ketakutan pada matematika

  1. Kembangkanlah sikap positif. Yakinlah bahwa semua orang bisa matematika asalkan belajar dengan cara yang benar yaitu melalui pemahaman dan pengertian.
  2. Seringlah bertanya. Timbulkan niat untuk mengerti matematika. Jangan malu bertanya bila tidak mengerti saat sedang diterangkan, mintalah ilustrasi atau simulasi yang jelas saat diajarkan.
  3. Berlatihlah secara rutin, apalagi jika sering mengalami kesulitan. Carilah contoh soal matematika di buku dan internet untuk berlatih. Jika ada soal yang sulit carilah pembahasan soal matematika untuk topik tersebut.
  4. Jangan hanya membaca contoh soal, tapi kerjakanlah contoh soal tersebut. Ujilah diri sendiri sampai yakin bahwa kita mengerti apa yang kita kerjakan.
  5. Jangan putus asa jika melakukan kesalahan. Justru dengan banyaknya melakukan kesalahan saat berlatih, kita akan lebih cepat mengerti dan saat ujian nanti kesalahan yang sama akan bisa dihindari.




   REFERENSI :

Label:

MATEMATIKA DAN KEHIDUPAN
• 06.52 • 0 comments
Kata matematika sudah sangat tidak asing lagi kita dengar, matematika adalah sebuah Ilmu yang sangat di butuhkan diberbagai jurusan atau kegiatan, mungkin dengan hal yang terkecil yaitu hitung- hitungan. Dengan tidak sadar mereka berhitung dan itu adalah ilmu matematika. Plato berpendapat, bahwa matematika adalah identik dengan filsafat untuk ahli pikir, walaupun mereka mengatakan bahwa matematika harus dipelajari untuk keperluan lain. Objek matematika ada di dunia nyata, tetapi terpisah dari akal. Ia mengadakan perbedaan antara aritmetika (teori bilangan) dan logistik (teknik berhitung) yang diperlukan orang. Belajar aritmetika berpengaruh positif karena memaksa yang belajar untuk belajar bilangan-bilangan abstrak. Dengan demikian matematika ditingkatkan menjadi mental aktivitas mental abstrak pada objek-objek yang ada secara lahiriah, tetapi yang ada hanya mempunyai representasi yang bermakna. Plato dapat disebut sebagai seorang rasionalis. Aristoteles mempunyai pendapat yang lain. Ia memandang matematika sebagai salah satu dari tiga dasar yang membagi ilmu pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan fisik, matematika, dan teologi. Matematika didasarkan atas kenyataan yang dialami, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari eksperimen, observasi, dan abstraksi. Aristoteles dikenal sebagai seorang eksperimentalis. (Moeharti Hadiwidjojo dalam F. Susilo, S.J. & St. Susento, 1996:20). Sedangkan orang Arab, menyebut matematika dengan ‘ilmu al-hisab yang berarti ilmu berhitung. Di Indonesia, matematika disebut dengan ilmu pasti dan ilmu hitung. Sebagian orang Indonesia memberikan plesetan menyebut matematika dengan “matimatian”, karena sulitnya mempelajari matematika. (Abdusysyakir, 2007:5). Pada umumnya orang awam hanya akrab dengan satu cabang matematika elementer yang disebut aritmetika atau ilmu hitung yang secara informal dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang berbagai bilangan yang bisa langsung diperoleh dari bilangan-bilangan bulat 0, 1, -1, 2, – 2, …, dst, melalui beberapa operasi dasar: tambah, kurang, kali dan bagi. Dari berbagai sumber yang gue baca matematika dapat disimpulkan yaitu Ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, Besaran dan konsep-konsep Yang berrhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak Yang terbagi dalam 3 bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri. Menurut gue fungsi matematika untuk mengembangkan kemampuan berhitung, Mengukur, dan menggunakan rumus2nya untuk kehidupan sehari hari.Banyak banget pelajar di Indonesia yang kurang menyukai pelajaran matematika. Alasannya karena sulit, ribet, tidak paham dengan rumus, dituntut harus teliti dan yang lainnya. Tapi jika kita mengerti rumus-rumus matematika pasti mengerjakannya pun akan terasa mudah dan menyenangkan. Karena menurut gue dan kebanyakan orang matematika bukanlah hafalan taapi matematika harus di mengerti. Pelajaran matematika bertujuan untuk memiliki kemampuan sebagai berikut: 1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau logaritma,secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. 2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat,melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi,menyusun bukti atau menjelaskan gagasan atau pernyataan matematika. 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah merancang model matematika, menyelesaikanmodel dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4. Mengkomu ikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau Media lain untuk memperjelas keadaan dan masalah. 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matemayika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingintahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam memecahkan masalah.

Label:

DEFINISI MATEMATIKA ISLAM
• 06.40 • 0 comments
“Apa definisi matematika islam?”


1. Matematika Islam Jaman Keemasan
Jaman keemasan matematika islam terbentang dari abad ke-8 sampai abad ke-15 masehi. Matematikus islam sangat produktif menciptakan karya-karya matematika orisinil. Mereka juga menerjemahkan karya-karya matematika Yunani kuno semisal Euclid, Pythagoras, dan lain-lain.
Untuk definisi matematika islam jenis jaman keemasan ini, tampaknya tidak ada yang tidak setuju. Karena matematika benar-benar subur di tangan para matematikus islam waktu itu.
Meski ada sedikit orang barat yang mencibir bahwa matematika islam jaman keemasan adalah sekedar menerjemahkan matematika karya Yunani kuno. Tentu kita dapat dengan mudah menyanggah pendapat di atas. Cukup tunjukkan sistem bilangan desimal karya AlKhawritzmi, selesai sudah.
Apalagi bila melanjutkan dengan bidang aljabar karya AlKhawaritzmi dan puncaknya oleh Oemar Khayyam. Tambahan lagi teori kalkulus juga sudah mulai tumbuh di jaman keemasan Islam.
Tetapi kita masih memiliki masalah dengan definisi jenis ini. Bagaimana matematika Islam setelah jaman keemasan?

 
2. Interpretasi Kitab Suci dengan Angka-angka
Definisi ini sangat kreatif. Misalnya huruf-huruf dalam ayat Basmalah terdiri dari 19 huruf. Sedangkan jumlah surat dalam AlQuran adalah 114 surat.
Perhatikan bahwa 114 adalah kelipatan 19 yakni,
114 = 19 x 6.
Bilangan yang sering menjadi perhatian adalah bilagan 7. Surat AlFatihah terdiri dari 7 ayat. Nabi Yusuf berhasil menafsirkan mimpi raja yang berkaitan dengan angka 7. Surat AlBaqarah banyak menyimpan rahasia angka 7. Dan masih banyak lagi.
Definisi jenis kedua ini terasa sangat mengasyikkan. Mengapa? Karena kita mengkaji langsung kitab suci. Jadi sangat terasa islamnya.
Apa masalahnya dengan definisi jenis ini?
Masalahnya adalah: mana matematikanya?
Jenis kedua ini sering hanya mengungkapkan aspek aritmetika khusus dari matematika. Sedangkan sisi matematika yang lain sangat sedikit diungkapkan.


 
3. Kontekstualisasi Islam dari Matematika
Definisi ini juga menarik. Menerapkan beragam konsep matematika dalam konteks dunia islam. Misalnya menerapkan matematika untuk menghitung faraid – sistem waris – dalam islam. Menerapkan teori matematika untuk menentukan waktu jam sholat dan lain-lain.
Lebih aplikatif lagi kita dapat menerapkan matematika untuk kehidupan sehari-hari konteks islam. Bila setiap hari Achmad membaca AlQuran 1/4 juz maka butuh berapa hari untuk mengkhatamkan – menamatkan – AlQuran?
Definisi jenis ketiga ini menurut saya bagus dan kreatif. Semakin kreatif dan bagus sesuai dengan pemahaman kita terhadap matematika dan islam.

 

 
 
REFERENSI:
 
 
 
 

Label:

MATEMATIKA PRASEJARAH
• 06.15 • 0 comments
Matematika prasejarah
Asal mula pemikiran matematika terletak di dalam konsep bilangan, besaran, dan bangun. Pengkajian modern terhadap fosil binatang menunjukkan bahwa konsep ini tidak berlaku unik bagi manusia. Konsep ini mungkin juga menjadi bagian sehari-hari di dalam kawanan pemburu. Bahwa konsep bilangan berkembang tahap demi tahap seiring waktu adalah bukti di beberapa bahasa zaman kini mengawetkan perbedaan antara "satu", "dua", dan "banyak", tetapi bilangan yang lebih dari dua tidaklah demikian.
Benda matematika tertua yang sudah diketahui adalah tulang Lebombo, ditemukan di pegunungan Lebombo di Swaziland dan mungkin berasal dari tahun 35000 SM. Tulang ini berisi 29 torehan yang berbeda yang sengaja digoreskan pada tulang fibula baboon. Terdapat bukti bahwa kaum perempuan biasa menghitung untuk mengingat siklus haid mereka; 28 sampai 30 goresan pada tulang atau batu, diikuti dengan tanda yang berbeda. Juga artefak prasejarah ditemukan di Afrika dan Perancis, dari tahun 35.000 SM dan berumur 20.000 tahun,menunjukkan upaya dini untuk menghitung waktu.
Tulang Ishango, ditemukan di dekat batang air Sungai Nil (timur laut Kongo), berisi sederetan tanda lidi yang digoreskan di tiga lajur memanjang pada tulang itu. Tafsiran umum adalah bahwa tulang Ishango menunjukkan peragaan terkuno yang sudah diketahui tentang barisan bilangan prima atau kalender lunar enam bulan. Periode Predinastik Mesir dari milenium ke-5 SM, secara grafis menampilkan rancangan-rancangan geometris. Telah diakui bahwa bangunan megalit di Inggris dan Skotlandia, dari milenium ke-3 SM, menggabungkan gagasan-gagasan geometri seperti lingkaran, elips, dan tripel Pythagoras di dalam rancangan mereka

.Timur Dekat kuno
Matematika Babilonia merujuk pada seluruh matematika yang dikembangkan oleh bangsa Mesopotamia (kini Iraq) sejak permulaan Sumeria hingga permulaan peradaban helenistik. Dinamai "Matematika Babilonia" karena peran utama kawasan Babilonia sebagai tempat untuk belajar. Pada zaman peradaban helenistik Matematika Babilonia berpadu dengan Matematika Yunani dan Mesir untuk membangkitkan Matematika Yunani. Kemudian di bawah Kekhalifahan Islam, Mesopotamia, terkhusus Baghdad, sekali lagi menjadi pusat penting pengkajian Matematika Islam.
Bertentangan dengan langkanya sumber pada Matematika Mesir, pengetahuan Matematika Babilonia diturunkan dari lebih daripada 400 lempengan tanah liat yang digali sejak 1850-an.Ditulis di dalam tulisan paku, lempengan ditulisi ketika tanah liat masih basah, dan dibakar di dalam tungku atau dijemur di bawah terik matahari. Beberapa di antaranya adalah karya rumahan.
Bukti terdini matematika tertulis adalah karya bangsa Sumeria, yang membangun peradaban kuno di Mesopotamia. Mereka mengembangkan sistem rumit metrologi sejak tahun 3000 SM. Dari kira-kira 2500 SM ke muka, bangsa Sumeria menuliskan tabel perkalian pada lempengan tanah liat dan berurusan dengan latihan-latihan geometri dan soal-soal pembagian. Jejak terdini sistem bilangan Babilonia juga merujuk pada periode ini.
Sebagian besar lempengan tanah liat yang sudah diketahui berasal dari tahun 1800 sampai 1600 SM, dan meliputi topik-topik pecahan, aljabar, persamaan kuadrat dan kubik, dan perhitungan bilangan regular, invers perkalian, dan bilangan prima kembar. Lempengan itu juga meliputi tabel perkalian dan metode penyelesaian persamaan linear dan persamaan kuadrat. Lempengan Babilonia 7289 SM memberikan hampiran bagi √2 yang akurat sampai lima tempat desimal.
Matematika Babilonia ditulis menggunakan sistem bilangan seksagesimal (basis-60). Dari sinilah diturunkannya penggunaan bilangan 60 detik untuk semenit, 60 menit untuk satu jam, dan 360 (60 x 6) derajat untuk satu putaran lingkaran, juga penggunaan detik dan menit pada busur lingkaran yang melambangkan pecahan derajat. Kemajuan orang Babilonia di dalam matematika didukung oleh fakta bahwa 60 memiliki banyak pembagi. Juga, tidak seperti orang Mesir, Yunani, dan Romawi, orang Babilonia memiliki sistem nilai-tempat yang sejati, di mana angka-angka yang dituliskan di lajur lebih kiri menyatakan nilai yang lebih besar, seperti di dalam sistem desimal. Bagaimanapun, mereka kekurangan kesetaraan koma desimal, dan sehingga nilai tempat suatu simbol seringkali harus dikira-kira berdasarkan konteksnya.
Mesir
Matematika Mesir merujuk pada matematika yang ditulis di dalam bahasa Mesir. Sejak peradaban helenistik, Yunani menggantikan bahasa Mesir sebagai bahasa tertulis bagi kaum terpelajar Bangsa Mesir, dan sejak itulah matematika Mesir melebur dengan matematika Yunani dan Babilonia yang membangkitkan Matematika helenistik. Pengkajian matematika di Mesir berlanjut di bawah Khilafah Islam sebagai bagian dari matematika Islam, ketika bahasa Arab menjadi bahasa tertulis bagi kaum terpelajar Mesir.
Tulisan matematika Mesir yang paling panjang adalah Lembaran Rhind (kadang-kadang disebut juga "Lembaran Ahmes" berdasarkan penulisnya), diperkirakan berasal dari tahun 1650 SM tetapi mungkin lembaran itu adalah salinan dari dokumen yang lebih tua dari Kerajaan Tengah yaitu dari tahun 2000-1800 SM Lembaran itu adalah manual instruksi bagi pelajar aritmetika dan geometri. Selain memberikan rumus-rumus luas dan cara-cara perkalian, perbagian, dan pengerjaan pecahan, lembaran itu juga menjadi bukti bagi pengetahuan matematika lainnya, termasuk bilangan komposit dan prima; rata-rata aritmetika, geometri, dan harmonik; dan pemahaman sederhana Saringan Eratosthenes dan teori bilangan sempurna (yaitu, bilangan 6).Lembaran itu juga berisi cara menyelesaikan persamaan linear orde satu  juga barisan aritmetika dan geometri.
Juga tiga unsur geometri yang tertulis di dalam lembaran Rhind menyiratkan bahasan paling sederhana mengenai geometri analitik: (1) pertama, cara memperoleh hampiran π yang akurat kurang dari satu persen; (2) kedua, upaya kuno penguadratan lingkaran; dan (3) ketiga, penggunaan terdini kotangen.
Naskah matematika Mesir penting lainnya adalah lembaran Moskwa, juga dari zaman Kerajaan Pertengahan, bertarikh kira-kira 1890 SM Naskah ini berisikan soal kata atau soal cerita, yang barangkali ditujukan sebagai hiburan. Satu soal dipandang memiliki kepentingan khusus karena soal itu memberikan metoda untuk memperoleh volume limas terpenggal: "Jika Anda dikatakan: Limas terpenggal setinggi 6 satuan panjang, yakni 4 satuan panjang di bawah dan 2 satuan panjang di atas. Anda menguadratkan 4, sama dengan 16. Anda menduakalilipatkan 4, sama dengan 8. Anda menguadratkan 2, sama dengan 4. Anda menjumlahkan 16, 8, dan 4, sama dengan 28. Anda ambil sepertiga dari 6, sama dengan 2. Anda ambil dua kali lipat dari 28 twice, sama dengan 56. Maka lihatlah, hasilnya sama dengan 56. Anda memperoleh kebenaran."
Akhirnya, lembaran Berlin (kira-kira 1300 SM ) menunjukkan bahwa bangsa Mesir kuno dapat menyelesaikan persamaan aljabar orde dua.
Matematika Yunani
Pythagoras dari Samos
Matematika Yunani merujuk pada matematika yang ditulis di dalam bahasa Yunani antara tahun 600 SM sampai 300 M. Matematikawan Yunani tinggal di kota-kota sepanjang Mediterania bagian timur, dari Italia hingga ke Afrika Utara, tetapi mereka dibersatukan oleh budaya dan bahasa yang sama. Matematikawan Yunani pada periode setelah Iskandar Agung kadang-kadang disebut Matematika Helenistik.

Thales dari Miletus
Matematika Yunani lebih berbobot daripada matematika yang dikembangkan oleh kebudayaan-kebudayaan pendahulunya. Semua naskah matematika pra-Yunani yang masih terpelihara menunjukkan penggunaan penalaran induktif, yakni pengamatan yang berulang-ulang yang digunakan untuk mendirikan aturan praktis. Sebaliknya, matematikawan Yunani menggunakan penalaran deduktif. Bangsa Yunani menggunakan logika untuk menurunkan simpulan dari definisi dan aksioma, dan menggunakan kekakuan matematika untuk membuktikannya.[29]
Matematika Yunani diyakini dimulakan oleh Thales dari Miletus (kira-kira 624 sampai 546 SM) dan Pythagoras dari Samos (kira-kira 582 sampai 507 SM). Meskipun perluasan pengaruh mereka dipersengketakan, mereka mungkin diilhami oleh Matematika Mesir dan Babilonia. Menurut legenda, Pythagoras bersafari ke Mesir untuk mempelajari matematika, geometri, dan astronomi dari pendeta Mesir.
Thales menggunakan geometri untuk menyelesaikan soal-soal perhitungan ketinggian piramida dan jarak perahu dari garis pantai. Dia dihargai sebagai orang pertama yang menggunakan penalaran deduktif untuk diterapkan pada geometri, dengan menurunkan empat akibat wajar dari teorema Thales. Hasilnya, dia dianggap sebagai matematikawan sejati pertama dan pribadi pertama yang menghasilkan temuan matematika. Pythagoras mendirikan Mazhab Pythagoras, yang mendakwakan bahwa matematikalah yang menguasai semesta dan semboyannya adalah "semua adalah bilangan".Mazhab Pythagoraslah yang menggulirkan istilah "matematika", dan merekalah yang memulakan pengkajian matematika. Mazhab Pythagoras dihargai sebagai penemu bukti pertama teorema Pythagoras,meskipun diketahui bahwa teorema itu memiliki sejarah yang panjang, bahkan dengan bukti keujudan bilangan irasional.
Eudoxus (kira-kira 408 SM sampai 355 SM) mengembangkan metoda kelelahan, sebuah rintisan dari Integral modern. Aristoteles (kira-kira 384 SM sampai 322 SM) mulai menulis hukum logika. Euklides (kira-kira 300 SM) adalah contoh terdini dari format yang masih digunakan oleh matematika saat ini, yaitu definisi, aksioma, teorema, dan bukti. Dia juga mengkaji kerucut. Bukunya, Elemen, dikenal di segenap masyarakat terdidik di Barat hingga pertengahan abad ke-20. Selain teorema geometri yang terkenal, seperti teorem Pythagoras, Elemen menyertakan bukti bahwa akar kuadrat dari dua adalah irasional dan terdapat tak-hingga banyaknya bilangan prima. Saringan Eratosthenes (kira-kira 230 SM) digunakan untuk menemukan bilangan prima.
Archimedes (kira-kira 287 SM sampai 212 SM) dari Syracuse menggunakan metoda kelelahan untuk menghitung luas di bawah busur parabola dengan penjumlahan barisan tak hingga, dan memberikan hampiran yang cukup akurat terhadap Pi.Dia juga mengkaji spiral yang mengharumkan namanya, rumus-rumus volume benda putar, dan sistem rintisan untuk menyatakan bilangan yang sangat besar.
Matematika Cina
Matematika Cina permulaan adalah berlainan bila dibandingkan dengan yang berasal dari belahan dunia lain, sehingga cukup masuk akal bila dianggap sebagai hasil pengembangan yang mandiri. Tulisan matematika yang dianggap tertua dari Cina adalah Chou Pei Suan Ching, berangka tahun antara 1200 SM sampai 100 SM, meskipun angka tahun 300 SM juga cukup masuk akal.
Hal yang menjadi catatan khusus dari penggunaan matematika Cina adalah sistem notasi posisional bilangan desimal, yang disebut pula "bilangan batang" di mana sandi-sandi yang berbeda digunakan untuk bilangan-bilangan antara 1 dan 10, dan sandi-sandi lainnya sebagai perpangkatan dari sepuluh. Dengan demikian, bilangan 123 ditulis menggunakan lambang untuk "1", diikuti oleh lambang untuk "100", kemudian lambang untuk "2" diikuti lambang utnuk "10", diikuti oleh lambang untuk "3". Cara seperti inilah yang menjadi sistem bilangan yang paling canggih di dunia pada saat itu, mungkin digunakan beberapa abad sebelum periode masehi dan tentunya sebelum dikembangkannya sistem bilangan India.] Bilangan batang memungkinkan penyajian bilangan sebesar yang diinginkan dan memungkinkan perhitungan yang dilakukan pada suan pan, atau (sempoa Cina). Tanggal penemuan suan pan tidaklah pasti, tetapi tulisan terdini berasal dari tahun 190 M, di dalam Catatan Tambahan tentang Seni Gambar karya Xu Yue.
Karya tertua yang masih terawat mengenai geometri di Cina berasal dari peraturan kanonik filsafat Mohisme kira-kira tahun 330 SM, yang disusun oleh para pengikut Mozi (470–390 SM). Mo Jing menjelaskan berbagai aspek dari banyak disiplin yang berkaitan dengan ilmu fisika, dan juga memberikan sedikit kekayaan informasi matematika.
Pada tahun 212 SM, Kaisar Qín Shǐ Huáng (Shi Huang-ti) memerintahkan semua buku di dalam Kekaisaran Qin selain daripada yang resmi diakui pemerintah haruslah dibakar. Dekret ini tidak dihiraukan secara umum, tetapi akibat dari perintah ini adalah begitu sedikitnya informasi tentang matematika Cina kuno yang terpelihara yang berasal dari zaman sebelum itu. Setelah pembakaran buku pada tahun 212 SM, dinasti Han (202 SM–220 M) menghasilkan karya matematika yang barangkali sebagai perluasan dari karya-karya yang kini sudah hilang. Yang terpenting dari semua ini adalah Sembilan Bab tentang Seni Matematika, judul lengkap yang muncul dari tahun 179 M, tetapi wujud sebagai bagian di bawah judul yang berbeda. Ia terdiri dari 246 soal kata yang melibatkan pertanian, perdagangan, pengerjaan geometri yang menggambarkan rentang ketinggian dan perbandingan dimensi untuk menara pagoda Cina, teknik, survey, dan bahan-bahan segitiga siku-siku dan π. Ia juga menggunakan prinsip Cavalieri tentang volume lebih dari seribu tahun sebelum Cavalieri mengajukannya di Barat. Ia menciptakan bukti matematika untuk teorema Pythagoras, dan rumus matematika untuk eliminasi Gauss. Liu Hui memberikan komentarnya pada karya ini pada abad ke-3 M.


Zhang Heng (78–139)
Sebagai tambahan, karya-karya matematika dari astronom Han dan penemu Zhang Heng (78–139) memiliki perumusan untuk pi juga, yang berbeda dari cara perhitungan yang dilakukan oleh Liu Hui. Zhang Heng menggunakan rumus pi-nya untuk menentukan volume bola. Juga terdapat karya tertulis dari matematikawan dan teoriwan musik Jing Fang (78–37 SM); dengan menggunakan koma Pythagoras, Jing mengamati bahwa 53 perlimaan sempurna menghampiri 31 oktaf. Ini kemudian mengarah pada penemuan 53 temperamen sama, dan tidak pernah dihitung dengan tepat di tempat lain hingga seorang Jerman, Nicholas Mercator melakukannya pada abad ke-17.
Bangsa Cina juga membuat penggunaan diagram kombinatorial kompleks yang dikenal sebagai kotak ajaib dan lingkaran ajaib, dijelaskan di zaman kuno dan disempurnakan oleh Yang Hui (1238–1398 M). Zu Chongzhi (abad ke-5) dari Dinasti Selatan dan Utara menghitung nilai pi sampai tujuh tempat desimal, yang bertahan menjadi nilai pi paling akurat selama hampir 1.000 tahun.
Bahkan setelah matematika Eropa mulai mencapai kecemerlangannya pada masa Renaisans, matematika Eropa dan Cina adalah tradisi yang saling terpisah, dengan menurunnya hasil matematika Cina secara signifikan, hingga para misionaris Jesuit seperti Matteo Ricci membawa gagasan-gagasan matematika kembali dan kemudian di antara dua kebudayaan dari abad ke-16 sampai abad ke-18.
Matematika India
Arca Aryabhata. Karena informasi tentang keujudannya tidak diketahui, perupaan Aryabhata didasarkan pada daya khayal seniman.
Peradaban terdini anak benua India adalah Peradaban Lembah Indus yang mengemuka di antara tahun 2600 dan 1900 SM di daerah aliran Sungai Indus. Kota-kota mereka teratur secara geometris, tetapi dokumen matematika yang masih terawat dari peradaban ini belum ditemukan.
Matematika Vedanta dimulakan di India sejak Zaman Besi. Shatapatha Brahmana (kira-kira abad ke-9 SM), menghampiri nilai π dan Sulba Sutras (kira-kira 800–500 SM) yang merupakan tulisan-tulisan geometri yang menggunakan bilangan irasional, bilangan prima, aturan tiga dan akar kubik; menghitung akar kuadrat dari 2 sampai sebagian dari seratus ribuan; memberikan metode konstruksi lingkaran yang luasnya menghampiri persegi yang diberikan menyelesaikan persamaan linear dan kuadrat; mengembangkan tripel Pythagoras secara aljabar, dan memberikan pernyataan dan bukti numerik untuk teorema Pythagoras.
ini (kira-kira abad ke-5 SM) yang merumuskan aturan-aturan tata bahasa Sanskerta. Notasi yang dia gunakan sama dengan notasi matematika modern, dan menggunakan aturan-aturan meta, transformasi, dan rekursi. Pingala (kira-kira abad ke-3 sampai abad pertama SM) di dalam risalahnya prosody menggunakan alat yang bersesuaian dengan sistem bilangan biner. Pembahasannya tentang kombinatorika meter bersesuaian dengan versi dasar dari teorema binomial. Karya Pingala juga berisi gagasan dasar tentang bilangan Fibonacci (yang disebut mātrāmeru).
Surya Siddhanta (kira-kira 400) memperkenalkan fungsi trigonometri sinus, kosinus, dan balikan sinus, dan meletakkan aturan-aturan yang menentukan gerak sejati benda-benda langit, yang bersesuaian dengan posisi mereka sebenarnya di langit.Daur waktu kosmologi dijelaskan di dalam tulisan itu, yang merupakan salinan dari karya terdahulu, bersesuaian dengan rata-rata tahun siderik 365,2563627 hari, yang hanya 1,4 detik lebih panjang daripada nilai modern sebesar 365,25636305 hari. Karya ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan bahasa Latin
 
 
REFERENSI :
 
 

Label:

AKSIOMA MATEMATIKA
• 05.45 • 0 comments
AKSIOMA MATEMATIKA
Kata aksioma berasal dari Bahasa Yunani αξιωμα (axioma), yang berarti dianggap berharga atau sesuai atau dianggap terbukti dengan sendirinya. Kata ini berasal dari αξιοειν (axioein), yang berarti dianggap berharga, yang kemudian berasal dari αξιος (axios), yang berarti berharga. Di antara banyak filsuf Yunani, suatu aksioma adalah suatu pernyataan yang bisa dilihat kebenarannya tanpa perlu adanya bukti. Kata aksioma juga dimengerti dalam matematika. Akan tetapi, aksioma dalam matematika bukan berarti proposisi yang terbukti dengan sendirinya. Melainkan, suatu titik awal dari sistem logika. Misalnya, 1+1=2. Nama lain dari aksioma adalah postulat. Suatu aksioma adalah basis dari sistem logika formal yang bersama-sama dengan aturan inferensi mendefinisikan logika.
Aksioma matematika mengalami penurunan panjang dari eyrie kuno. Hampir 24 abad yang lalu itu diadakan untuk menjadi terbukti kebenaran-diri, suatu pernyataan yang benar-benar luar kecurigaan bahwa bisa salah. Hari ini memberitahu non-matematikawan yang aksioma adalah hanya sebuah premis atau aturan dalam permainan, titik awal.
Suatu aksioma membentuk formula yang ditetapkan daripada terbukti begitu melalui penerapan peraturan dari inferensi. Aksioma dan aturan inferensi bersama-sama menyediakan dasar untuk membuktikan semua teorema lainnya. Sebagai set berbeda aksioma dapat menghasilkan himpunan teorema ynag sama, mungkin ada banyak axiomatizations alternatif dari sistem formal. Tidak satupun dari ahli matematika dengan senang hati mengetahui sebenarnya di dalam hatinya atau lebih angkuh tentang aksioma sebagai 'ini' aturan permainan gambar resmi akan memimpin kita semua untuk berpikir. Mereka hanya memilih untuk tidak menghabiskan waktu mereka dalam 'filosofis' argumen dengan non-matematikawan mengenai apakah atau tidak aksioma yang mereka gunakan adalah 'benar
 
 
REFERENSI:
http://zulaekhah09.blogspot.com/2011/06/aksioma-matematika.html
 

Label:

BERFIKIR MATEMATIK DAPAT MENJADIKAN SESEORANG MAMPU BERFIKIR KRITIS DAN KREATIF
Senin, 30 September 2013 • 05.10 • 0 comments

Artikel ini membahas pengertian mengenai berfikir matematik dapat menjadikan seseorang mampu berfikir kritis dan kreatif. Uraian didasarkan atas analisis terhadap: (1) hakekat visi dan misi matematika masa kini dan masa datang; (2) Fungsi konsep matematika (3) pengertian konsep matematika (4) Contoh aplikasi konsep matematika berupa soal dan penyelesaiannya .

 

A. VISI DAN MISI MATEMATIKA

Istilah matematik memiliki beberapa pengertian bergantung pada cara pandang orang yang melaksanakannya. Coba kita ajukan pertanyaan: Apa yang dimaksudkan dengan matematika, kepada sejumlah orang yang beragam profesinya. Kita akan memperoleh jawaban yang bervariasi bergantung pada bagaimana orang tersebut memandang dan memanfaatkan matematika dalam kegiatan hidupnya. Apabila kita cermati, setiap orang dalam kegiatan hidupnya akan terlibat dengan matematika, mulai dari bentuk yang sederhana dan rutin sampai pada bentuknya yang sangat kompleks. Misalnya, menghitung dan membilang, dua contoh kegiatan matematika rutin dan sederhana, hampir dikerjakan oleh setiap orang. Dua contoh kegiatan matematika lainnya, “mathematical problem solving” dan “mathematical reasoning” dikerjakan oleh sekelompok orang tertentu saja. Keadaan kegiatan manusia atau “mathematics as a human activity”. Sejalan dengan sifat kegiatan manusia yang tidak statis, pandangan tadi memuat makna matematika sebagai suatu proses yang aktif, dinamik, dan generatif. Karakteristik lainnya adalah matematika sebagai bahasa yang memiliki beberapa kesamaan dengan bahasa lainnya antara lain, mereka memiliki aturan dan istilah tertentu. Karakteristik berikutnya, ditinjau dari segi susunan unsur-unsurnya, matematika dikenal pula sebagai ilmu yang terstruktur dan sistimatis dalam arti bagian-bagian matematika tersusun secara hierarkhis dan terjalin dalam hubungan fungsional yang erat. Uraian mengenai karakteristik matematika di atas, mengarahkan visi matematika pada dua arah pengembangan yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang. Visi pertama mengarahkan pembelajaran matematika untuk pemahaman konsep dan idea matmatika yang kemudian diperlukan untuk menyelesaikan masalah matematika dan ilmu pengetahuan lainnya. Visi kedua dalam arti yang lebih luas dan mengarah ke masa depan, matematika memberi peluang berkembangnya kemampuan menalar yang logis, sistimatik, kritis dan cermat, kreatif, menumbuhkan rasa percaya diri, dan rasa keindahan terhadap keteraturan sifat matematika, serta mengembangkan sikap obyektif dan terbuka yang sangat diperlukan dalam menghadapi masa depan yang selalu berubah. “(http://gurupembaharu.com/home/?p=1331)”

 

 

B.   PENGERTIAN KONSEP MATEMATIKA

Pengertian konsep dalam matematika diungkapkan oleh Bahri bahwa konsep adalah satuan arti yang mewakilisebuah objek yang mempunyai cirri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek dihadapi, sehingga objek-objek yang ditempatkan dalam golongan tertentu. Objek-objek dihadirkan dalam kesadaran orang dalam bentuk representasi mental tak berperaga. Konsep ini dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata.

Jadi dengan adanya pengertian konsep ini kita dapat menyimpulkan bahwa ide dapat dituangkan dalam bentuk contoh maupun bukan contoh, sehingga orang dapat mengerti suatu konsep secara jelas.

 

C.   TUJUAN KONSEP MATEMATIKA

Tujuan konsep matematika ini adalah kita dapat mengaplikasikan / menerapkan matematika ini dalam bentuk soal atau pun tidak sehingga orang dapat memahami secara jelas dalam penyelesaian soal apapun bentuknya. Untuk itu kita perlu banya belajar matematika dengan cara membaca buku ataupun berlatih soal-soal sehingga kita bisa mengaitkan berbagai rumus dalam cabang matematika yang pengerjaannya dapat dikerjakan dengan beberapa konsep matematika seperti aljabar, trigonometri, geometri datar, kalkulus, dll.

 

Label:

SELUK BELUK MATEMATIKA
Minggu, 29 September 2013 • 05.34 • 0 comments
 

SELUK-BELUK MATEMATIKA



Menyimak pendidikan di Indonesia khususnya matematika di sekolah, baik di tingkat dasar sampai dengan tingkat lanjutan, belum pernah memberikan hal yang menggembirakan, baik untuk skala nasional maupun internasional. Indonesia masih jauh tertinggal oleh negara-negara lain meski di kancah Internasional secara individu siswa Indonesia ada yang berprestasi namun hal itu bukan merupakan potret dari pendidikan di Indonesia.
Bukan tidak disadari adanya hal tersebut oleh kalangan praktisi pendidikan, tapi justru kini tengah menjadi bahan pengembangan oleh pemerintah (Depdiknas) yang terus berupaya mengganti (memperbaiki) kurikulum berkali-kali meski kajian belum juga dilakukan. Namun apakah usaha tersebut memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia? jawabnya jelas itu bukan solusi.


Beberapa hal yang menjadi kendala bagi pendidikan di Indonesia terutama pendidikan matematika, diantaranya adalah adanya kurikulum yang dikembangkan dengan hanya berdasar teori atau mencontoh atau mengadop dari kurikulum negara lain tanpa dikembangkan dari kasanah negeri sendiri, terlalu ingin cepat melihat hasil sehingga proses dinomorduakan, melupakan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang hasilnya tidak dapat langsung dirasakan. Berikutnya adalah paradigma pembelajaran masih mengutamakan pandangan behaviorisitik, sehingga pemahaman dari pengetahuan yang diperoleh siswa jadi berkurang. Dari factor human, loyalitas guru terhadap tujuan pendidikan sangat berkurang (tidak tahu? atau tidak mau tahu?), yang ada hanya yang penting mengajar, target kurikulum seringkali menjadi tujuan utama, yaitu materi sudah disampaikan kepada siswa, hal ini karena Diknas membuat kurikulum masih merupakan “dewa” yang harus diikuti sihingga pendidikan jadi berbelok arah, yaitu agar “dewa” senang.


B.
Pentingnya Pembelajaran Matematika


Sepercik harapan akan pembelajaran matematika di sekolah yang lebih baik dan bermutu terbesit disetiap guru khususnya para guru matematika. Sudah bukan zamannya lagi matematika menjadi momok yang menakutkan bagi siswa di sekolah. Jika selama ini matematika dianggap sebagai ilmu yang abstrak dan kering, teoretis dan hanya berisi rumus-rumus, seolah berada "di luar" mengawang jauh dan tidak bersinggungan dengan realitas kehidupan siswa-kini saatnya bagi siswa untuk akrab dan familier dengan matematika.
Tony Buzan, penemu dan pengembang metode mind map, menganalogikan bahwa belajar matematika ibaratnya membangun rumah-rumahan dari kartu. Setiap kartu harus berada di tempatnya sebelum kartu berikutnya ditambahkan. Kalau ada kartu yang keliru letaknya atau salah satu saja kartu yang goyah maka seluruh bangunan rumah-rumahan tersebut akan roboh.


Kalau analogi Buzan tersebut akan dikembangkan dalam wacana pembelajaran di ruang kelas maka dengan terpaksa kita harus menyoroti pembelajaran yang diaksanakan oleh guru karena memang gurulah secara formal yang pertama kali mengenalkan matematika kepada anak-anak. Cukup banyak anak-anak yang tidak pernah berhasil membangun rumah-rumahan kartu tersebut bahkan kewalahan di saat-saat awal mereka mengenal matematika karena guru tidak mampu menguatkan sekaligus mengutuhkan bagian-bagian dari rumah-rumahan kartu tersebut.


Satu hal lagi yang sangat menarik bahwa matematika dalam kurun ”zaman keemasan” para kaum Muslimin sekitar abad ke-delapan, adalah salah satu bidang ilmu yang paling digemari karena ada kaitannya dengan kebutuhan religi, misalnya untuk menghitung warisan dan kalender Islam, penentuan waktu shalat, menentukan waktu yang akurat dari gerakan bulan dan bintang, dan sebagainya. Sebagaimana diungkap oleh Mohaini Mohamed (2001) bahwa matematika menjadi kegemaran utama bagi kaum muslimin ketika itu karena bidang itu menggabungkan kesatuan dan karakter abstrak dari pemikiran Islam. Matematika tidak dianggap sebagai ajaran sekuler, tetapi lebih sebagai sarana untuk menyalurkan pemahaman pada bidang yang dapat dimengerti. Matematika, menurut kaum muslimin merupakan kunci menguak misteri tentang Tuhan.


Antusiasme relegius yang digambarkan diatas sekaligus menorehkan prinsip matematika dari sudut transendental bahwa Tuhan ada di segala tempat di alam semesta yang di dasarkan pada prinsip kepastian. Maka seperti yang dibukukan dalam sejarah, perkembangan dan produktivitas matematika terutama pada abad sembilan dan sepuluh seolah mengalami keajaiban yang luar biasa dikalangan matematikawan Islam.


Belajar matematika adalah sesuatu yang cukup. Ini merupakan suatu syarat kecukupan. Mengapa? Karena dengan belajar matematika, kita akan belajar bernalar secara kritis, kreatif dan aktif. Sekaligus pada saat yang sama, kita akan mengamati keberdayaan matematika (power of mathematics) dan tentunya menumbuh kembangkan kemampuan learning to learn. Jadi, kecuali untuk mendapatkan daya matematika itu sendiri sebagai alat penyelesai permasalahan dalam kehidupan nyata, kita belajar matematika sebagai suatu wahana yang memfasilitasi kemampuan bernalar, berkomunikasi, dan peningkatan kepercayaan diri dalam bermatematika. Tentunya kemampuan bernalar yang dipunyai anak didik melalui proses belajar matematika itu akan meningkatkan pula kesiapannya untuk menjadi lifetime learner atau pemelajar sepanjang hayat.


C.
Potret Pembelajaran Matematika


Perspektif sejarah biasanya menjadi referensi kecil untuk merenungkan bagimana potret matematika kita disini, saat ini. Sudahkan kita (pemerintah, masyarakat, politisi, semua elemen bangsa ini) memberikan apresiasi secara memadai terhadap persoalan matematika di negeri ini?


Pembelajaran matematika di sekolah-sekolah kita hingga saat ini ibarat benang kusut yang sulit diurai. Kita masih berkutat di sekitar persoalan pembelajaran yang berkaitan dengan model pembelajaran matematika, alat peraga dan sebagainya, dan beriringan dengan itu kita dihadapkan kepada kenyataan kemampuan para guru matematika kita yang belum memadai. Kita seolah mundur beberapa abad dan baru mulai meraba-raba seperti apa pembelajaran matematika yang kita butuhkan. Kita tidak lagi punya kesempatan yang luas untuk mengembangkan proses pembelajaran kita ketingkat yang lebih tinggi (lebih bermakna) semisal membawanya kepada pesan transendental sebagaimana capaian-capaian yang ditunjukkan para pendahulu kita beberapa abad yang lalu.


Kemelut itu bahkan tidak berakhir sampai disitu. Ketika kita kemudian berpikir tentang inovasi, kita masih terperangkap dalam situasi jangka pendek. Ada terget standar kelulusan pada ujian nasional – misalnya  yang menjadi acuan penilaian keberhasilan pembelajaran di sekolah. Maka kemudian kita gulirkan program –program ”instan” untuk mengatasi persoalan Ujian Nasional tersebut. Dari tahun ke tahun, hampir semua sekolah menyiapkan program khusus untuk mengantisipasi ujian nasional tersebut. Akhirnya kita sulit membantah ketika ada tudingan bahwa pembelajaran di sekolah ”ujung-ujungnya” adalah untuk melayani kebutuhan ujian dan kelulusan peserta didik.


Guru masih kesulitan untuk beranjak dari peran klasiknya sebagai penerus pengetahuan dan membantu para siswanya untuk naik kelas dan lulus ujian. Sebagai implikasinya, pembelajaran matematika, sebagaimana juga mata pelajaran lain di sekolah saat ini belum banyak menggarap dan mengembangkan sikap kritis serta kemandirian siswa. Ujian Nasional seolah telah menjadi kiblat pembelajaran di sekolah. Sebagian besar energi tersedot untuk kepentingan itu.


Singkatnya, penjelajahan kita di bumi pembelajaran matematika masih terbatas pada issu-issu yang kecil dan parsial. Ini sesuatu yang paradoksal, ketika kita ingin menggagas sebuah inovasi dengan perspektif jangka panjang dan strategis, disaat yang bersamaan kita dihadang oleh beban-beban jangka pendek yang sangat pragmatis, dan keduanya tidak selalu persis berada pada garis yang sama. Sayangnya kita justru selalu terjebak pada situasi yang kedua.


Seharusnya kita sudah ”jenuh” dengan berbagai data tentang kelemahan dan kekurangan bangsa kita pada berbagai sektor kehidupan. Kita sudah lelah memandangi potret buram pendidikan kita. Namun, Impactnya secara positif dari sajian fakta-fakta tersebut ternyata tidak muncul. Bahkan hal itu sering menjadi bahan tertawaan kita sendiri.


Sekarang, kurikulum matematika yang kita gunakan saat ini padat dengan materi. Guru terbebani dengan target untuk menyelesaikan beban materi yang sangat besar. Jika ada dua guru bertemu, yang akan menjadi bahan pembicaraan adalah sampai di mana pembahasan materi di kelasnya. Bukan mendiskusikan bagaimana menyampaikan suatu materi dengan menarik. Yang terakhir ini sudah tidak sempat lagi diperbincangkan. Dan, tidak relevan dengan keadaan seperti sekarang.


Proses pembelajaran matematika yang disediakan di sekolah akibatnya tidak berjalan secara optimal. Mungkin jadi lebih tepatnya, yang ada hanyalah proses pengajaran matematika, bukan pembelajaran. Dalam pelajaran matematika yang seharusnya kita belajar bernalar, telah diubah menjadi pelajaran menghafal. Sangat aneh jika pelajaran matematika diberikan dengan guru yang ceramah di depan kelas atau "berbicara" dengan papan tulisnya, sedangkan muridnya hanya mencatat. Lalu, murid itu akan menghafal semua yang dicatatnya. Dan, pada saat ulangan nanti, murid itu cukup "memuntahkan" kembali info yang dicatatnya atau ditelannya. Ini semua terjadi hampir di setiap kelas. Ini jelas mengasingkan aktivitas bermatematika yang benar dengan pelajaran matematika.

Hal tersebut diatas didukung oleh beberapa faktor:


a. Peran guru


Guru dalam hal ini mendominasi kelas, yang berkuasa dan siswa dianggap sebagai obyek yang dikuasasi, diatur diarahkan, dibimbing. Semua ide-ide, informasi, pertanyaan, evaluasi dan penilaian berpusat pada guru. Guru hendak memindahkan semua yang dimiliki, jadi memberikan pengetahuan kepada siswa tidak membangun pengetahuan.


b. Perlakuan siswa


Semua siswa dianggap sama (walaupun kenyataannya masing-masing individu berbeda), baik dari bakat, minat, kemampuan, kesiapan belajar,dll. Dalam uji kemampuan semua siswa diberi soal dengan tingkat kesukaran yang sama, dengan harapan semua siswa maju bersama.


c. Pertanyaan


Hampir semua pertanyaan datangnya dari guru, siswa hanya menjawab dan menjawab. Sebagaian besar pertanyaan hanlah hanya tes ingatan ( mengingat rumus ).


d. Latihan soal


Soal-soal yang diberikan hanyalah penerapan dari rumus, tidak memberikan pancingan kepada siswa untuk berpikir. Yang penting adalah jawaban.


e. Interaksi


Interaksi belajar satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Siswa hampir tidak diberikan kesempatan memberikan umpan balik kepada guru. Sehingga guru dianggap satu-satunya yang paling pintar di kelas tersebut.


f. Sumber belajar


Sumber belajar yang ada hanyalah guru dan buku itupun sedikit / tidak semua siswa punya buku sumber.


g. Alat bantu ( media ) belajar


Alat bantu yang digunakan biasanya hanya talk dan chalk. Guru biasanya kurang kreatif, malas, apalagi berinovatif untuk berprakarsa membuat alat bantu atau media yang sesuai.


h. Variasi kegiatan


Kegiatan belajar biasanya hanya : Rumus – latihan soal – soal. Mengikuti urutan baku yang ada dalam buku (sesekali mencatat, bercerita, bertanya, latihan soal) merupakan rutinitas setiap harinya.


i. Pengelolaan kelas


Pembelajaran kebanyakan dilakukan secara klasikal atau kelompok besar. Hampir tidak pernah dicoba untuk melaksanakan pembelajaran kooperatif. Jadi kemampuan individu yang bervariasi terabaikan dan kurang diperhatikan.


j. Penilaian


Penilaian dan bentuk soal kurang variatif. Biasanya hanya ulangan harian dan ulangan umum



Mensikapi dari potret guru matematika diatas yeng penting sekarang adalah bagaimana kita sebagai calon guru matematika melakukan perubahan (hijrah) terhadap paradigma lama pembelajaran matematika ke paradigma baru, untuk disesuaikan dengan pembelajaran yang sesuai dengan keadaan saat ini. Bagaimana potret pembelajaran matematika yang sesuai dengan keadaan saat ini? Adalah pembelajaran yang inovatif. Menurut Dr. Marsigit (2008 : Nilai Matematika dan Nilai Luhur Bangsa) dikemukakan bahwa ,” Transfer of knowlwdge “, dari guru ke murid telah dianggap sebagai paradigma yang kurang sesuai denga hakekat mendidik. Lebih lanjut dijelaskan oleh beliau, sebagai alternatifnya dikembangkan paradigma baru yaitu “Cognitive-development” sebagai upaya untuk mengembangkan potensi sibelajar. Hal tersebut tentunya dapat dipahami bahwa pembelajaran progresif (inovatif) – lah yang dimaksud.


Pada dasarnya kita ketahui bersama bahwa matematika senantiasa ada pada semua kurikulum sekolah. Entah itu tingkat Taman Kanak-kanak sampai tingkat Perguruan Tinggi, matematika senantiasa termasuk salah satu materi yang tercakup dalam kurikulum. Akan tetapi kurikulum matematika yang kita gunakan saat ini padat dengan materi dan tidak relevan dengan kedaan sekarang ini.


Dengan demikian solusi untuk permasalahan pendidikan di Indonesia khususnya yang berhubungan dengan kurikulum dapat di atasi dengan berbagai langkah diantaranya:


1. Kurikulum dikembangkan atas dasar kasanah dalam negeri sendiri, sesuai dengan kondisi baik lingkungan maupun siswa.


2. Target kurikulum jangan dijadikan “dewa” dalam pendidikan, namun dimulai dengan menetapkan prinsip dan standar yang jelas, dan itu diberikan otonomi kepada sekolah bersangkutan.


3. Bangun sikap loyalitas para guru dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya.


4. Kembangkan paradigma pembelajaran yang konstruktif.

 

 

Untuk belajar matematika juga diperlukan suatu penggerak pada siswa yaitu minat belajar apabila kita sudah berminat dengan pelajaran matematika maka pelajaran matematika tersebut dapat diserap dengan baik oleh otak kita. Minat belajar bisa diperoleh dari dalam diri siswa tersebut ataupun faktor lingkungan yang mendukungnya seperti halnya fasilitator (guru mata pelajaran yang bersangkutan), berikut penjabaran dari minat belajar matematika.  :



·         Minat belajar



Minat belajar adalah aspek psikologis seseorang yang menampakkan diri dalam beberapa gejala, seperti : gairah, keinginan, semangat, perasaan, suka untuk melakukan proses perubahan tingkah laku melalui berbagai kegiatan yang meliputi mencari pengetahuan dan pengalaman, dengan kata lain, minat belajar itu adalah perhatian, rasa suka, ketertarikan seseorang (warga belajar) terhadap proses belajar yang dijalaninya dan yang kemudian ditunjukkan melalui keantusiasan, partisipasi dan keaktifan dalam mengikuti proses belajar yang ada.

Minat siswa dalam mengikuti mata pelajaran Matematika merupakan faktor yang paling berpengaruh besar bagi keberhasilannya dalam belajar dan menentukan tingkat prestasi belajar Matematika yang dicapainya.



Kurangnya minat siswa dalam pelajaran matematika disebabkan oleh : 1) ketertarikan siswa terhadap mata pelajaran Matematika masih kurang, 2) perhatian siswa dalam belajar Matematika masih kurang, 3) dorongan siswa untuk menguasai pelajaran Matematika masih kurang, 4) cara dan gaya guru Matematika dalam menyampaikan materi pelajaran kurang menarik perhatian siswa, 5) fasilitas dan alat penunjang mata pelajaran Matematika yang disediakan di sekolah kurang lengkap, dan 6) situasi dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung.



Semangat pendidik dalam mengajar terhadap materi yang diajarkan berhubungan erat dengan minat belajar siswa. Karena guru yang mempunyai semangat belajar yang tinggi dalam mengajar terhadap materi yang diajarkan, akan mempengaruhi minat siswa terhadap materi yang diajarkan. Tidak mungkin seorang guru dapat membangkitkan minat siswanya, jika guru tersebut tidak memiliki minat dalam memberikan materi pelajaran matematika.

Bidang studi yang menarik akan menumbuhkan minat seseorang untuk mempelajarinya dengan sebaik baiknya dan sebaliknya bidang studi yang tidak sesuai minatnya tidak akan mempunyai daya tarik baginya. Maka dari itu dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan seorang guru harus dapat menyajikan materi pelajaran sebaik mungkin, apabila materi pelajaran yang diberikan kepada siswa tidak menarik baginya, maka timbullah rasa bosan, malas untuk belajar sehingga hasil yang diperoleh dalam studinya menurun.

Setelah penelitian dilakukan diharapkan minat dan prestasi belajar siswa meningkat. Dengan minat belajar matematika siswa meningkat, siswa diharapkan akan bersemangat belajar dan melakukan segala kegiatan yang berhubungan dengan pembelajaran. Hal ini sesuai pendapat William James (Moh Uzer, 2002:112), minat siswa merupakan faktor utama yang mempengaruhi belajar siswa. Minat belajar berpengaruh pada hasil belajar, jika minat untuk belajar tinggi maka hasilnya pun akan lebih baik (Muhibbin Syah, 2006:151)

Ada suatu strategi yang bisa digunakan acuan guru, yaitu strategi student team heroic leadership dan strategi reconnecting dalam pembelajaran matematika. Karena dengan pembelajaran yang lebih bervariasi dapat meningkatkan peran serta siswa dan minat siswa dalam pembelajaran matematika. Menurut Suryasubroto (1988:9), minat belajar dapat ditingkatkan melalui pemilihan metode pembelajaran yang tepat sehingga siswa berperan aktif, membuat selingan selama pembelajaran dan pemilihan alat peraga yang cocok. Pembelajaran dengan strategi student team heroic leadership dan strategi reconnecting memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengeluarkan pendapatnya dan bertukar ide. Sehingga proses belajar siswa tidak lagi berpusat kepada guru. Belajar kelompok akan membuat suasana belajar menjadi lebih menarik.

Pengalaman siswa dalam menyelesaikan soal matematika yang kontekstual/yang bersifat real life situations dalam pembelajaran matematika yang dirasa kurang, hal tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya kemampuan matematika dalam dunia nyata karena matematika hanya diisi oleh hal – hal yang bersifat abstrak dan teoritis dalam pengaplikasiannya. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal – soal matematika pada pembelajaran matematika merupakan salah satu tugas bersama dari semua pihak dalam dunia pendidikan.

Setiap guru harus terus berusaha dalam mengembangkan strategi/metode mengajar untuk meningkatkan kemampuan tersebut, sehingga dalam pembelajaran guru harus menggunakan metode yang lebih mudah diterima oleh siswa.


Penggunaan metode mengajar cukup besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar guru dalam mengajar. Pemilihan metode mengajar yang tidak tepat justru dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan seiringnya belajar mandiri siswa diharapkan lebih banyak belajar sendiri atau kelompok dengan bantuan seminimal mungkin dari orang lain, dengan seiringnya aktivitas belajar tersebut, siswa akan lebih mudah untuk memahami materi yang ada.

REFERENSI




2.      db4.wikispaces.com/file/view/jj4006.9.pdf

Label:


OLD
dyas ayu lupita
Thank for coming


Welcome


Welcome to WORLD Of MATHEMATICS
TOP 10 of 27


Tagboard
Leave your footprint here, dont use harsh words :P
Blogger Templates
Welcome
Thank for following me

Welcome #late -_-
Credits
Up!

Visitors Counter
TOTAL PENGUNJUNG